Rabu, 18 Oktober 2017

Saya Pindah...!

Bunga urang-aring, fotografer: Rizka Kurnia Utami (c)rizka ku

Sengaja saya taruh gambar bunga yang cantik diatas, untuk menarik perhatian. hehe.

Saya pindah blog. Cek blog baru saya ya: rizkaku.wordpress.com
Alasannya? Sudah saya tulis di blog baru. Kalau mau baca, silakan cek disini. Kalau gak mau ya ga papa.

Tulisan di blog ini juga rencananya akan saya pindah. Hanya saja saya masih belajar dan mencari tahu, bagaimana caranya. Jadi sambil belajar, untuk posting tulisan baru, saya posting di blog baru.

Kunjungi ya blog baru saya...! Ditunggu,

Rizka

Kamis, 04 Juni 2015

Satu Bulan & Seprai Nenek

Sebulan, sampai akhir bulan kemarin ini, banyak hal-hal yang telah terjadi. Tapi bukankah setiap waktu memang banyak hal-hal yang terjadi? Tinggal kita saja sebagai manusia yang mau apa tidak mengambil pelajaran dan hikmah atas segala sesuatu. Dan bukankah segala hal yang baik atau hal yang buruk semuanya adalah kebaikan bagi seorang yang beriman?

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Segala perkara yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila kebaikan dialaminya, maka ia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila keburukan menimpanya, dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.” [HR. Muslim]

Terutama minggu kemarin, beberapa hal satu sama lain terjadi dalam waktu yang lumayan dekat. Sampai saya merasa bias perasaan. Harusnya sedih tapi tidak lebih sedih daripada ketika saya masih anak kecil. Semoga dengan menulis ini bisa menjadi renungan dan pengingat bagi diri.

Saya mulai menulis tulisan ini sebenarnya sudah sejak akhir bulan lalu. Di perjalanan bersama rombongan kantor ke BCI award futurarc, tulisan belum selesai. Lalu lanjut menulis diperjalanan dini hari ke agenda besar dakwah, Rapat dan Pawai Akbar di GBK, belum selesai pula. Hingga akhirnya sekarang bisa diselesaikan, di kos.


Ada sebuah scene yang saya alami sewaktu kecil. Mungkin kelas dua atau tiga SD. Saya masih ingat betul scene ini, bukan soal kapannya tapi apa yang terasa saat itu. Di SD kampung di kota, sangat sederhana sebagaimana SD biasa lainnya di Banjarmasin waktu saya kecil dulu. Bangunan berjendela kawat, berdinding kayu yang mulai lapuk dan bolong dibeberapa bagian.

Pelajaran agama Islam diberikan oleh bapak guru. Saat itu materi akidah. Bapak guru menjelaskan bahwa agama yang diridhai Allah hanya Islam. Hanya orang-orang yang beriman dan beramal shalih yang bisa selamat di akhirat nanti dan mendapat ganjaran surga. Sebaliknya yang tidak Islam, tidak beriman, dan tidak beramal sholih, tidak selamat dan akan dibalas Allah...


***

Sebagaimana kebanyakan orang Toraja, nenek saya dari bapak adalah non muslim. Begitu pula kakek saya. Kakek sudah lama meninggal, waktu umur saya sekitar 3 tahun. Jadi saya tidak terlalu paham dan ingat kalau pernah ikut ke Penajam sewaktu kakek meninggal. Hanya tau dari foto jadul di album dan cerita mama. Beda hal dengan nenek. Walaupun jarang sekali liburan ke tempat nenek, tapi beliau masih ada sampai saya besar.

Beberapa waktu kemarin saat mengikuti suatu acara dengan format gala dinner mewakili kantor bersama rombongan, saya jadi teringat nenek dan jadi terpikir; Saya betul-betul bukanlah cucu yang berbakti.

Berbeda dengan kakak saya yang juga cucu kesayangan nenek. Kakak saya bahkan memilih tinggal "di Kaltim, dekat dengan nenek. Sementara saya semakin jauh di seberang pulau. Ketika akan berangkat ke Bogor, nenek di ujung telepon berkata, "semua cucu jauh-jauh. Nanti saya mati tidak ada yang bisa datang".

Lalu ditengah-tengah acara tersebut saya juga teringat, sebelum berangkat ke Bogor, nenek menitipkan seprai kain katun bagus warna putih. Katanya untuk saya bawa ke bogor. Seprai jaman dahulu, yang kata mama- yang tahu banyak soal perkainan - masih bagus kainnya dan bagus kualitasnya. Sekarang sudah jarang atau tidak ada lagi orang menjual seprai dengan kain seperti itu. Karena itu pula mama bilang, "ini ditinggal aja (dirumah) ya?" Ini kainnya nanti juga susah dicuci kalau dikos, kainnya berat. Perawatannya susah, sayang (kalau rusak). Kurang lebih begitulah.

Jadi kata siapa saya bukan termasuk cucu kesayangan? Saya kira nenek perhatian kepada semua cucunya-terlepas bagaimanapun kondisi beliau. Adapun soal cucu yang tidak berbakti seperti saya maka itu benar adanya. Nenek bukan lah orang berada. Rumah nenek di kampung, di kota kecil Penajam. Rumah dari kayu, panggung, yang sederhana. Hidup dari gaji pensiunan bulanan kakek. Jadi, Seprai dengan bordiran motif bunga itu pasti termasuk seprai kesayangan, yang lama disimpan. Lalu dilungsurkan ke saya yang akan pergi merantau ke seberang.

Minggu kemarin, nenek meninggal.


***

Waktu saya kecil, saat Pak Guru menjelaskan bahwa hanya muslim beriman beramal shalih yang diganjar surga dan bisa selamat di akhirat, anak kecil pemalu karena khawatirnya waktu itu memberanikan diri mengangkat tangan bertanya, "Pak, nanti ketika di surga bisa ngga misalnya, minta dengan Allah, supaya memasukan juga nenek ke surga?"
Pak guru menjawab, "tidak bisa". Berkaca-kaca dan merembes air dari kedua mata.

Nek, maafkan saya yang tidak ikut menelpon kemarin. Lebih lagi, maafkan karena sama sekali tidak ada usaha sekedar mengenalkan Islam kunjungan beberapa tahun lalu.

Entah kenapa dulu tidak tersampaikan. Apakah ketakutan, ataukah keacuhan berselubung toleransi? Sehingga ridha bahwa keluarga tetap dijalan yang dimurkai Allah? Astagfirullah...
posted from Bloggeroid

Sabtu, 16 Mei 2015

Small Things 02: Suara Pasar Bogor

Pertama ke Pasar Bogor, Saya langsung senyum-senyum sendiri.

Waktu kecil di Banjarmasin, Saya lumayan sering ikut ke pasar tradisional di Wildan. Berbelanja bersama Mama Nisa, mama kedua tempat saya dan saudara-saudari saya dititipkan sejak kecil karena kedua orang tua kami mengajar di sekolah sampai siang. Mama Nisa ini orang Banjar. Mungkin karena dari kecil sekali kami diasuh orang Banjar, kami akhirnya ikut-ikutan memanggil kedua orang tua kami “Mama” (Orang Banjar menyebutnya dengan tekanan di bagian akhir, seperti diberikan huruf hamzah tanda sukun di belakang: Mama’) dan “Abah. Walaupun sebenarnya ibu orang Jogja dan Bapak orang Tator yang lahir di Balikpapan. Supaya lebih mudah sebut saja kalau saya ini; sepertiga Jogja, sepertiga Toraja dan sepertiga Banjar.

Pasar Bogor. Ini area di depan Pasar Bogor Yogy* Departement Store. Macet.
Area ini biasanya tempat saya keluar dari area pasar tradisional di lorong jalan depan Yogy*

Banjar, punya budaya tutur, bukan budaya tulis. Karenanya bahasa Banjar tidak punya skrip/ huruf-huruf simbol bahasa tulis sebagaimana bahasa Jawa ataupun bahasa Sunda. Tapi orang Melayu Banjar memiliki budaya “bapantun” (berpantun). Cerita Airin teman saya yang orang Kalua (Melayu Banjar di Pahuluan (pedalaman/ hulu) Kalimantan Selatan) sampai dia SMA pun, dia masih sering berbalas pantun dengan teman-temannya sambil dilagukan. Isi pantunnya biasanya bercanda atau saling ejek untuk lucu-lucuan.

Makanya wajar, logat Kalua bisa dibilang logat Banjar yang paling mendayu-dayu. Untuk soal logat dan kehalusan bahasa ini, agak mirip kasusnya dengan Sunda. Yang semakin ke dalam dan jauh dari muara, bisa dibilang bahasa Sundanya semakin lemes mendayu dan halus. Bahasa dan logat Sunda orang Bandung dan Sukabumi yang di daerah pedalaman /gunung lebih lemes dan halus dibandingkan Bogor yang lebih dekat Muara (walaupun sebenarnya masih jauh juga). Sama seperti bahasa Banjar Kalua dan Kandangan yang lebih mendayu dan halus dibandingkan bahasa orang Banjarmasin. Jadi Bogor Banjarmasin 11-12 laah… Agak mirip.

Yang tidak mirip, pasarnya. Sebenarnya Saya agak heran, katanya ada stereotip umum kalau orang Sunda itu orang yang senang dekat keluarga (ini masih positif), tidak ngoyo, tidak suka pergi jauh-jauh merantau, dan yang tidak positifnya disebut –maaf- agak malas dan bukan pekerja keras. Yah seperti Si Kabayan lah gambarannya.

Tapiii, apa yang saya temukan di Pasar Bogor kok agak sedikit berbeda dan membuktikan bahwa stereotip tersebut- khususnya yang bagian akhir tidak terlalu benar juga ternyata.

Suara Pasar Bogor lebih riuh dibandingkan Pasar Banjarmasin. Para pedagang dengan agresif menyasar pembeli menawarkan barang dagangan dengan suara nyaring, kalau tidak disebut berteriak. Suara pedagang seperti bersahutan. Saya besar tidak pernah lagi ke Pasar Sederhana di Wildan. Tapi kalau sedang di Banjarmasin berbelanja mingguan mengantar mama ya juga ke pasar tradisional, di Kayu Tangi yang lebih dekat rumah sekarang. Bisa dibilang Pasar tradisonal Banjarmasin itu ‘sunyi’dan ga ada apa-apanya soal keriuhan. Terkecuali ada pedagang VCD di pasar yang sedang memutar musik dangdut.

Riuhnya suara pedagang Pasar Bogor menunjukan, kata siapa orang sunda tidak agresif?? Mereka, para pedagang Pasar Bogor ini bahkan promo secara massif. nyaring, berulang-ulang, seperti dilagukan.

Di Pasar Kayutangi, Banjarmasin, tidak semua menawarkan dagangan secara langsung, kebanyakan hanya menunggu caolon pembeli datang atau sibuk dengan pembeli dan mengurus dagangan yang ada. Jika menawarkan juga tidak sampai berteriak, hanya ajakan lemah lembut seperti; “cari apa ding? ayo masuk liat dulu”. Kalau ke Pasar Martapura juga begitu. Walaupun pedagang Pasar Martapura hampir semua menawarkan dagangan, tapi ya tetap tidak sampai bersuara nyaring seperti Pasar Bogor.
Ini area pasar tradisionalnya. Tipikal pasar tradisional Indonesia, becek.
Tapi saya tetap suka, yang penting murah (gaya berpikir emak-emak banget udah - - ) 

Kemungkinan lain, karena pedagang Pasar Bogor ini , di outdoor/ luar ruang. Sementara Pasar Kayutangi di dalam ruang. Tapi toh pedagang yang tumpah sampai ke luar di pasar Banjarmasin juga tidak semunya berseru nyaring. Pedagang Pasar Martapura di bagian belakang menjual bahan-bahan makanan dan juga diluar juga tidak seriuh Pasar Bogor walau tetap menawarkan dagangan ke calon pembeli.

Ini sekaligus menunjukan, bahwa adanya budaya tulis bukan berarti tidak punya budaya tutur. Jadi ceritanya, budaya bisa kita lihat dan dianalisis dari cara para pedagang pasar yang menawarkan barang dagangan* :P.

Pertama ke Pasar Bogor, saya bertekad, pokoknya lain kali kalau ke pasar Bogor mesti sambil merekam suara suasana pasarnya. Supaya pengalaman ruangnya bisa lebih terasa. And... I did it! Tapi mohon maaf, akan saya posting belakangan. Untuk sementara tulisan gambarnya ini dulu. Ini juga lumayan susah, karena harus sabar dengan internet modem yang lelet untuk upload beberapa gambar. Berkali-kali upload euy…! Plus, saya harus belajar dulu cara nge-embed audio player untuk memutar audio di blog. Barangkali ada yang berbaik hati mau memberitahukan caranya atau ngasih linknya hehehe.

Pasar Bogor 'diluar' Pasar tradisionalnya (Pasar tumpah di jalan raya) 

________________________________________________________________
*Sunda punya wayang golek! Saya tidak yakin tapi sepertinya mewayang, bercerita dengan boneka, juga termasuk budaya tutur, kan?

Rabu, 13 Mei 2015

Nama Tengah

Kecepatan, bukan nama tengahku.*

Dahulu di kampus ada teman seangkatan yang diberi gelar 'tangan mesin', karena cepat sekali mengerjakan segala sesuatu, dengan CAD, SketchUp maupun maket. Saya juga juga punya teman sekelompok yang cepat kerjanya dan agak 'gila' (ini pujian, bukan dalam arti sebenarnya sis ;). Atas idenya kami pernah mengganti desain untuk tugas kelompok mata kuliah utama, Studio Perancangan Arsitektur (SPA) 4 dalam waktu semalam. Bangunan masa banyak, science center, yang desainnya dikerjakan secara Prambanan. Waktu itu tidak semua setuju, walaupun saya mendukung-mendukung saja karena agak belum puas juga dengan desain kami.

Katanya orang introvert memang umumnya bukan orang yang ahli dalam kecepatan. Mereka orang yang suka kedalaman, suka merenung, berpikir dan berhati-hati. Ini kelebihan mereka yang introvert. Kelebihan ini ada konsekuensinya. Pendek kata, kelebihan juga memunculkan kelemahan. Seperti dua sisi mata uang, Kehati-hatian, terlalu banyak berpikir, membuat introvert perlu waktu yang cukup lama dalam mengambil keputusan.

Tapi saya tidak percaya bahwa sesuatu itu tidak bisa dipelajari. Jikapun naturenya begitu, maka pasti ada cara untuk memperbaikinya, meskipun dengan cara-cara dan kualitas seorang introvert.

***


Bukankah sudah banyak aku baca, pencapaian luar biasa para sahabat atau orang-orang terdahulu ketika mereka telah mengazzamkan diri. Sahabat rasul ada yang menguasai bahasa Persia dalam waktu sebulan, demi tujuan dakwah. Dan betapa banyak sudah kita dengar kaum muslim kalah dari segi jumlah dan atau perlengkapan perang, namun mencapai kemenangan gemilang yang tercatat sejarah? 30ribu berbanding 100ribu di Qadisiyah melawan Persia, masa Khilafah dipimpin Umar bin Khattab.Kemudian pada perang Yarmuk, Romawi menyiapkan 240ribu tentara, yang mana dalam satu momen perang disebutkan Khalid Al Walid mengerahkan 100 orang untuk menyerbu sayap kiri Romawi yang berjumlah 40ribu orang?

Maka haruslah diri ini berkaca. tengok dulu bagaimana azzam diri, dan bagaimana kualitas mereka?

Pahlawan Yarmuk, Khalid bin al Walid? Beliau seseorang yang di beri gelar oleh Rasul sebagai pedang Allah. Seseorang yang ketika ia merenungi dan berdialog dengan dirinya sendiri akhirnya nampak baginya bukti-bukti nyata bahwa Muhammad Rasulullah. Ia lalu bangkit untuk masuk Islam, sekalipun di masa lalu Ia menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, bahkan sempat memimpin perang melawan kaum muslim sebagai panglima.

Seseorang yang tetap memohon pada Rasul, agar Rasul berdoa pada Allah untuk mengampuni kesalahannya dulu karena menghalangi manusia dari jalan Allah, sekalipun telah disebut Rasul bahwa keislaman itu telah menghapus kesalahan masa lalu.

Seseorang yang memiliki kewara'an sempurna dan memiliki sifat itsar (mendahulukan orang lain). Yang ketika diutus Khalifah Abu Bakar untuk menjadi panglima memimpin pasukan yang telah terlebih dulu datang dengan empat panglima lain yang telah diutus sebelumnya, justru berkata dihadapan seluruh pasukan di medan perang, setelah memuji dan bersyukur pada Allah;

"Hari ini adalah hari-hari Allah. Tidak pantas kita disini berbangga-bangga dan berbuat durhaka. Ikhlaskanlah jihad kalian dan harapkan ridha Allah dengan amal kalian. Mari kita bergantian memegang pimpinan. Hari ini salah seorang memegang pimpinan, besok yang lain, lusa yang lain lagi, sehingga seluruhnya mendapat kesempatan memimpin."

Sekalipun Khalifah telah mengangkatnya untuk mengepalai seluruh pasukan dengan membawahi para panglima lain, ia bersedia turun dari jabatan yang dipercayakan Khalifah, karena tidak ingin menjadi pembantu setan atas pribadi-pribadi sahabatnya, para panglima sebelumnya. Maka ia jadikan kepemimpinan itu bergiliran.


Adapun masa perang Qadisiyah, panglimanya adalah Saad bin Abu Waqqash. Seseorang yang didoakan Rasulullah, agar ditepatkan bidikan panahnya dan dikabulkan doanya. Yang pada suatu waktu membuat penasaran para sahabat lain akan kedatangannya sehingga para sahabat menengok kanan-kiri menunggu siapa yang akan datang, karena Rasulullah menyebut, "sekarang akan muncul dihadapan kalian seorang penduduk surga". Abdullah bin Amr bin Al Ash setelah itu selalu membuntutinya memohon agar menunjukan jenis ibadah dan amalan yang menyebabkan Sa'ad berhak menerima ganjaran demikian. Saad menjawab, "Tak lebih dari amal ibadah yang biasa kita kerjakan. Hanya saja, aku tidak pernah menaruh dendam atau niat jahat terhadap seorangpun diantara kaum muslimin". Didoakan demikian, beliau justru semakin berhati-hati terhadap doa beliau. Beliau tidak berdoa, melainkan menyerahkan segala urusannya kepada Allah ta'ala saja.

Sekalipun didoakan Rasulullah agar memiliki doa makbul, Saad justru semakin menjaga ketakwaan dengan memakan yang halal dan menolak setiap dirham yang syubhat. Dan setiap mendengar Rasulullah berpidato dan menasihati umat, air matanya bercucuran deras. Padahal beliau telah disebut termasuk salah satu penduduk surga.


Begitulah kualitas sahabat. Bagaimana keteguhan/azzam Khalid, sekalipun dulu ia pernah menjadi musuh Allah. Bagaimana kekuatan Saad dan makbulnya doanya, yang menyandarkan dan menyerahkan semuanya hanya pada Allah semata.
Sebatas mana azzamku? Sudahkah aku berserah semata pada Allah, Rabb (Pencipta dan Pemelihara) semesta alam?

Bagaimana kewara'an dan sikap itsar Khalid sekalipun telah menjadi panglima tertinggi dan bergelar pedang Allah. Bagaimana kehati-hatian Saad dan takutnya dirinya kepada Allah, sekalipun doanya makbul dan telah disebut sebagai penduduk surga.
Maka apakah aku memiliki sifat wara dan itsar padahal tidaklah aku sebagaimana Khalid yang bergelar pedang Allah, yang selalu memperkuat posisi kaum muslim?
Sebatas mana kehati-hatianku pada segala sesuatu terkait urusan akhirat dibanding kehati-hatian untuk urusan dunia, sebatas mana rasa takutku pada Allah? Sementara belumlah pasti bagiku surga atau neraka, sebagaimana Saad yang sudah pasti menjadi penduduk surga?

Astagfirullahaladzhim...


***


Di awal, saya mengira kelemahan ini soal mempelajari skill. Pada akhirnya, benarkah ini semata soal skill?

Nama tengahku adalah kurnia**. Dan saya harap semoga Allah selalu mengaruniai saya dalam hidup singkat ini, taufik dan hidayah untuk mengambil pelajaran-pelajaran sehingga saya bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi banyak orang dan agama.

Bismillah.. biidznillah...

______________________________________________________
* Nama tengah, adalah 'istilah' yang setau saya (dari film-film atau bacaan) dan dalam presepsi saya, sering juga dipakai/ dipasang ketika seseorang memiliki sifat ataupun kelebihan yang melekat sesuai dengan dirinya.
Tentu saja, nama tengah dalam pengertian sebenarnya pun ada. Orang barat (utamanya sepertinya Inggris) seringkali tidak memajang nama tengahnya meskipun dia punya dan diberikan oleh orang tuanya ketika dia lahir. Biasanya hanya surname (nama keluarga/marga) yang posisinya ditaruh di belakang, yang mereka gunakan. Contoh; dr. Jhon Watson, teman Sherlock, nama tengahnya Hamish. Walaupun demikian banyak juga orang barat yang memang tidak punya nama tengah.
Nah umumnya pula, ketika seseorang memiliki kelebihan, atau sifat/karakter kuat yang melekat dengan dirinya, atau memiliki suatu gelar; sifat atau gelar ini disebut dan disisipkan ditengah-tengah nama diantara nama depan dan surname, oleh orang lain atau orang yang bersangkutan. Kalau di novel-novel nama tengah sebagai gelar ini biasanya dituliskan dengan tanda kutip.

** Nama tengah dalam pengertian sebenarnya.
posted from Bloggeroid

Minggu, 10 Mei 2015

Small Things 01: Spongebob Meringis



Ini tidak benar-benar penting. Bahkan memang tidak penting dan sangat biasa sekali. Ruko* ada di mana-mana, di kota manapun.

Apa yang membuat saya tertarik adalah setelah selama setahun lebih selalu bolak-balik melewatinya, saya baru menyadari hal ini: Bangunan meringis. Spongebob? Robot? Walaupun tidak dicat kuning, Saya lebih suka menyebutnya "Spongebob Meringis", sedang senyum/tertawa memperlihatkan barisan gigi. Itu yang pertama kali terpikirkan.

Sabtu, 09 Mei 2015

Jakarta


Penumpang Kereta Api Listrik (KRL) Jakarta bersiap turun di salah satu stasiun transit. Gerbong lengang karena bukan jam berangkat/pulang kerja (Jumat, pukul 10.20). Foto diambil setelah melewati pusat-pusat keramaian Jakarta. Ini sudah di wilayah Jakarta Utara.

Saya suka Jakarta.... Dari kejauhan.

Maksud saya, saya suka hanya jika berkunjung sesekali. Alasannya sederhana, acara-acara besar workshop, pameran/expo, konferensi, atau bahkan masyiroh/aksi gabungan, seringkali diadakan di Jakarta. Contoh, untuk Rapat dan Pawai Akbar* nanti, untuk yang wilayah jabodetabek, acaranya diadakan di Jakarta.

Atau seperti kemarin, saya berkesempatan ikut expo dan workshop The Big 5, expo konstruksi terbesar dari 5 negara, di Jakarta International Expo (JIE). Katanya sih JIE tempat biasa Jakarta Fair diadakan. 'Katanya', sebab saya belum pernah juga datang ke Jakarta Fair.

Saya ingat perkataan dosen saya dulu waktu kuliah, kurang lebih kata beliau begini,
"Kota yang baik adalah kota yang memampukan nenek-nenek tua sekalipun bisa jalan-jalan keliling kota sendirian, naik angkutan umum dengan aman dan nyaman"

Minggu, 11 Mei 2014

Kei Minohara, Sou Fujimoto & Adi Purnomo (Atap Jakarta)



Ini adalah tiket acara yang saya janjikan dari lama ceritanya. Dari tanggal acara 15 Maret, baru sekarang bisa menulis untuk blog karena laptop saya rusak (alasan :P). Sempat diperbaiki kemudian rusak lagi, sampai ternyata sudah lewat 2 bulan! Baiklah karena sekarang sudah bisa, mudah-mudahan saya masih bisa menceritakan ini dengan baik, dari catatan yang ada.

Seminar simposium ini diadakan di Grand Indonesia, Jakarta. Awalnya saya tidak tahu seminar yang bagaimana yang akan dihadiri ini. Hanya diberitahu kalau semua sangat disarankan ikut acara dengan pengecualian untuk saya. Bu Mita bilang 'Harus', karena kemarin Saya dapat tugas mempelajari project untuk kompetisi. Selain karena bos menjadi salah satu pembicara, alasan semua diajak ikut seminar yaitu karena pembicara lain adalah Kei Minohara, dan Sou Fujimoto. Kebetulan keduanya asal Jepang, tapi sudah melanglang buana ke mana-mana. Kei Minohara adalah urban planner yang dikenal dan sangat dihormati di Jepang. Sou Fujimoto adalah arsitek muda yang karyanya sudah tersebar dibeberapa negara, Beberapa desainnya fenomenal dan terkenal. Ia adalah murid dari Toyo Ito, dan menurut Pa Mamo ini berpengaruh dan dapat terlihat pada desain Fujimoto. Menurut beliau pula, arsitek ini cepat sekali berkembangnya dan solusi desainnya cerdas. Beliau terlihat antusias menjadi pembicara bersama Sou Fujimoto, bahkan beliau bilang sebenarnya nervous karena sama-sama harus jadi pembicara :D. Intinya Ini acara sangat direkomendasikan karena bisa belajar dari arsitek lain, seperti Sou Fujimoto, yang kapan lagi bisa ke Indonesia.

Jadi apa yang saya dapat setelah mengikuti seminar ini?

Jumat, 21 Februari 2014

Tujuan

Bayangkan settingnya: Lesehan di teras belakang, dikelilingi hijau tanaman pagar dan beberapa pohon kecil. Background suara deras sungai yang terkadang saya masih susah membedakannya dengan suara hujan. Kicau burung yang bermacam-macam, karena memang tetangga sebelah studio punya aviary (kandang burung besar : ). Oh iya, serta nyamuk yang kadang tidak terasa, tahu-tahu sudah menggigit. 

Sederhana. Di sinilah tempat makan siang kantor yang terkadang sambil diselingi diskusi. Soal arsitektur, masalah lingkungan, seperti banjir, kebijakan pemerintah, peristiwa terkini, problematika masyarakat (kalau istilah hizb: problematika umat), adalah topik yang seringnya dibicarakan. Karena praktisi yang bergelut langsung serta pengalaman hidup yang banyak, terkait hal-hal tersebut  beliau-beliau tahu cerita dan fakta yang mungkin umum jarang mengetahuinya. Contohnya misalnya begini, kalau orang umum sekarang tahu bahwa pemerintahan sekarang bobrok, maka beliau-beliau tahu detil kebobrokannya, orangnya, dan apa yang orang tersebut lakukan. 

Kamis, 20 Februari 2014

everyday architecture

Terpikir mengganti nama blog jadi everyday architecture. Walau panjang entah kenapa suka. Bahkan sudah muncul gambaran logo atau head webnya. Saya berencana akan lebih sering menulis dan mencicil tulisan untuk bikin buku (aamiin). Dengan nama everyday architecture, bukan berarti setiap hari saya bakal update blog. Hanya ingin membagi pandangan keseharian dalam arsitektur. Selama di lingkungan baru dan kerja di mahati dan mamostudio, nampaknya banyak kelebatan-kelebatan pemikiran bermunculan. Sangat sayang jika tidak di bagi. Apalagi saat pemikiran-pemikiran itu lewat, seringnya saya senyum-senyum sendiri, tuh bahaya kan. Nanti orang lain bakal ke ge-er an lagi, dikirain senyumin orang di seberang. Bukan lucu atau apa tapi seringkali saya baru sadar hal-hal disekitar, yang terkadang sederhana. 

Minggu, 16 Februari 2014

Arsitek dan Persoalan Perumahan

Berapa harga rumah dengan luas 36 meter persegi (Tipe 36) saat ini? 
Di Tangerang, rumah tipe 36 yang disediakan pengembang besar terkemuka saat ini memiliki harga pasaran 100000000 – 110000000 rupiah. Bingung ngitung jumlah nolnya kan? Saya juga. Harganya sekarang Rp 100jutaan . Sedang tipe 38 didaerah Cibubur dengan induk pengembang yang sama, harganya 242,4 juta. Itu jika tunai, jika kredit KPR (bunga/Riba) maka harganya menjadi 260jutaan.
 

Itu artinya rata-rata harga rumah di Tangerang adalah Rp 2.7juta-3juta setiap 1m persegi lantai bangunan (tanpa memperhatikan luas tanah), sedang di Cibubur harganya Rp 6.3 juta per meter persegi. Harga disetiap dapat berbeda, karena harga juga dipengaruhi salah satunya lokasi, dimana setiap lokasi memiliki perbedaan perkembangan pertumbuhan ekonomi yang berbeda pula. Contoh di Pekanbaru, rumah tipe 96 luas tanah 105m2 memiliki harga jual tunai 1,05 milyar. Yang artinya harga jual rumah di Pekanbaru tiap 1 meter persegi lantai adalah Rp 10,9 juta. Walaupun daya beli rata-rata masyarakat Pekanbaru tinggi (pendapatan perkapita penduduk Provinsi Riau ada pada urutan ketiga tertinggi se-Indonesia [1]), Saya tidak tahu ini dalam batas kewajaran atau tidak.

Minggu, 15 Desember 2013

Tentang Portofolio dan Rusaknya Hardisk

Tiada rotan akarpun jadi. Saat data file digital sudah menghilang karena rusaknya hardisk, file-file manual akhirnya jadi penolong. Tidak menyangka tugas-tugas studio individu yang dulu diminta dosen-dosen kami agar dipresentasikan (dan dikumpul) secara manual/gambar tangan ternyata sangat terpakai dan bermanfaat.

Dalam studio perancangan kebanyakan mahasiswa memang mengerjakan dasarnya (denah, tampak, potongan) secara digital dengan bantuan CAD atau yang lain. Baru kemudian di jiplak ulang dan difinishing secara manual dengan gambar tangan. Adapula yang mengerjakan denah, kemudian langsung mengerjakan 3D. Lalu diproyeksikan untuk mendapatkan gambar tampak dan lain-lain, terakhir baru dijiplak, dikerjakan secara manual. Saya sendiri biasanya juga mengerjakan denah potongan di CAD. Baru lebih detailnya manual. Perspektifnya (3D) biasanya sih manual, kecuali perlu studi khusus tentang bentuk, atau kalau bentuknya susah, baru dikerjain digital he :P.


Tapi kalau dilihat dan diingat-ingat, ternyata ada juga saya mengerjakan full manual. Kalau tugas kecil Studio Perancangan Arsitektur  (SPA) 1 sih memang manual karena masih belum bisa pakai CAD. Rasanya saya baru mulai bisa CAD itu saat tugas besar SPA1. Tapi SPA 4 itu, entah kenapa dulu semuanya full manual. Kalau Tugas Akhir (TA) beda lagi, karena laptop rusak, akhirnya hanya denah dan siteplan yang digital. Tampak dan potongan, juga 3D dikerjakan manual. Konsekuensinya maket mesti dikerjakan sendiri. Beruntung ada balabantuan; Nia yang super cepat (kalau ngomong aja sering diprotes kecepatan sama yang lain, he.), plus ka Neny dan Airin. Btw lama-lama ngelantur juga nih tulisan.

Sebenarnya cuma mau share, ini portofolio hasil mengumpulkan, memilih, men-scan, mengedit, kertas-kertas hasil studio arsitektur individu saya. Beberapa file digital yang masih tersisa, dikumpulkan dari blog, facebook atau data yang memang selamat dari rusaknya hardisk. Kenapa hanya portofolio individu, karena tugas studio yang dikerjakan secara tim juga ga ada lagi filenya sama saya.

Portofolio rizka_fullscreen view

link di blog ini (embed), ini yang viewnya kecil, saya belum bisa ngaturnya supaya viewnya lebih besar

Senin, 03 Juni 2013

Maket Tugas Akhir

Dalam  arsitektur, maket (model/ miniatur bangunan) adalah salah satu alat bantu dalam presentasi, atau bahkan alat bantu dalam mendesain.

Nah bagi mahasiswa tugas akhirpun demikian. Saat tugas akhir (TA) kemarin, Saya sangat terbantu oleh adanya kawan-kawan sekontrakan: Airin, Nia dan Ka Neny. Saat sidang TA maket sudah harus jadi untuk membantu dalam presentasi untuk mengkomunikasikan desain. Saya berjanji kepada salah satu dari mereka yaitu ka Neny, untuk upload foto maketnya. Mungkin bagi kawan-kawan di arsitektur sudah biasa dengan maket. Sedangkan bagi beliau yang jurusan MIPA, maket bukan suatu hal yang biasa sehingga ketika sudah jadi, beliau takjub (yah dilebaykan dikit ga papa lah... :p ) dengan hasil jadi maket. Nah kepada mereka bertiga, saya ucapkan banyak-banyak terimakasih karena telah membantu.
Ini foto hasil maketnya :D
Maket Pusat Sains Islam di Martapura

Foto detail maket beserta penjelasan desain

Minggu, 02 September 2012

antara "Doing", bakat & kemampuan

Teringat suatu peristiwa lama.

Orang-orang (di kampus terutama) seringkali salah mengira. Bahwa saya memiliki bakat, keahlian atau apapun yang membuat saya "lebih" dibandingkan yang lain. Bahkan ada yang menganggap saya sombong atau tinggi hati karena mengira saya memiliki apa yang dia kira saya memilikinya, bakat atau kemampuan tadi :( . Saya tahu. Bagaimanapun saya tahu.

Tapi sesungguhnya tidaklah demikian, teman. Tidak, aku tidak memilikinya... Apa yang kupunya hanya keinginan yang kuat dan usaha yang lebih. Itu saja. Aku bukanlah orang yang dilahirka jenius dengan segala keistimewaan. Hanyalah orang yang berusaha dengan kuat, agar bisa lebih dari kemampuan yang seadanya.
Namun demikian, aku sungguh bersyukur, inilah aku, dengan apa yng diberikan Allah, berusaha keras menjadi lebih baik. Bersyukur jika memang terlahir istimewa. Tidak apa-apa terlahir biasa, asal berusaha untuk menjadi istimewa. Dan sesungguhnya, usahalah yang akan dinilai Allah.

Terakhir, saya senang, ternyata Malcom-X setuju dengan saya :)
ujarnya:
"Anytime you see someone more successful than you are, they are doing something you aren't"
*) dari kamus, doing itu present participle "do". Do adalah kata kerja. Dan sungguh kelebihan seseorang itu lebih banyak terjadi karena ada usaha lebih dibanding lainnya.

Jumat, 31 Agustus 2012

1:16 AM

Couldn't sleep. Banyak hal melintas di kepala: kapitalisme, sistem, arsitektur, taman pintar islami, tugas akhir, pembimbing, kontakan, gerak dakwah,. how could many things crossed in my head?
Banyak hal di dunia tidak dipahami orang-orang sebagaimana kenyataannya. Bagaimana dan apa kemiskinan itu? Mengira kemiskinan hanyalah soal sikap/attitude? Mengira kesalahan hanya pada orang-orang/ rezim, dan bukan pada masalah inti yaitu sistem?

Tapi beginilah kenyataannya. JIka orang-orang tahu dan sadar apa masalahnya, tentulah kapitalisme sudah runtuh. Begitulah pemahaman orang-orang pada umumnya. Jika pemahaman mereka tidak lagi keliru, tentulah Islam sudah tegak. Inilah ladang amal bagi setiap orang yang menjadikan islam sebagai sebenar-benar landasan hidupnya.

Ahh.. Untuk apa khawatir? Untuk apa resah?
Inilah hidup. Bukan hidup jika tidak begini.
Bukan hidup jika tidak sulit dan mendaki. Setiap proses hidup harus dilalui, bahkan dinikmati dan disyukuri.
Bagi seorang muslim, cukuplah ridho Allah. Masih banyak yang harus dikerjakan.

:)

Minggu, 05 Agustus 2012

London, Masa depan, dan Konsekuensi Keimanan


Sepanjang jalan Banjarmasin-Banjarbaru berpikir.
Saya punya proposal masa depan dengan rencana sampai 63 tahun (saya buat setahun 2 bulan yang lalu).


Salah satu mimpi terdekat yang saya tulis, saya ingin Ke Inggris, ingin ke London.

source: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/48/TE-Collage_London.png
Tapi saya sadar, saya sendiri sebenarnya tidak tahu berapa jatah umur saya tersisa. Apakah beberapa tahun, beberapa bulan, atau hitungan hari lagi.
saya tidak tahu apa yg tertulis di laul mahfuz, apakah akhirat lebih dulu saya kunjungi? Untuk bertemu dengan-Nya dalam ridho-Nya, seperti yang saya tulis dan rencanakan pada umur 63?
Jadi jelas sebenarnya. kita memag tidak tahu, apa yg tertulis di laul mahfuz. Karenanya setiap perbuatan dan apapun yang kita rencanakan, harus dipastikan sesuai atau tidak dengan ridho Allah, cadangan amal di tingkatkan, amar ma'ruf nahi munkar ditegakkan, syariat di laksanakan; kewajiban dijalani, larangan di jauhi,. sehingga wlaupun kita telah merencanakan yang terbaik. Jika Allah memanggil lebih cepat, kapanpun itu, kita telah siap.

Secara teori, kelihatan mudah. Tapi pelaksanaan, memang tidak semudah teori. Begitu yang saya lihat pada orang lain, juga yang saya alami sendiri.
 
Komitmen keimanan, bukan hanya untuk dihafal rukun iman ada 6. Bahkan konsekuensi atas rukun pertama, iman kepada Allah pun berat. Seberapa banyak orang, yang "mengira" Allah hanya di mesjid? Sehingga keluar dari mesjid, dia tidak lagi menutup aurat? Atau merasa tidak perlu pula menegakan aturan islam di segala sendi kehidupan seperti yg Allah perintahkan..?
Wallahu'alam.
· · · 31 Juli pukul 12:34 di sekitar Martapura · 

(diambil dari status facebook saya, http://www.facebook.com/rku.architect)

Sabtu, 16 April 2011

Memperingati Hari Kesehatan Internasional


7 April- Memperingati Hari Kesehatan Internasional.
Sejarah hari Kesehatan Internasional adalah hari dimana Piagam WHO (World Health Organization) disetujui PBB, hingga WHO sebagai lembaga internasional, hingga saat ini ada dengan tujuan menangani masalah kesehatan global, dengan tujuan meningkatkan kesehatan seluruh manusia dan melakukannya melalui sejumlah program kesehatan global. Hal ini karena PBB menyadari bahwa kesehatan dan kontrol penyakit adalah penting (esensial) bagi pembangunan ekonomi dan sosial (Encarta Encyclopedia).
Luar biasa memang, terdapat lembaga internasional yang khusus menangani masalah kesehatan dunia. Sebagai contoh, pada saat munculnya epidemik SARS pada 2003, WHO berperan penting dalam mendiagnosis dan mendeteksi terdapat penyebaran penyakit ini (Encarta Encyclopedia). Kemudian WHO juga membantu dalam mengadakan imunisasi (pengebalan) dasar bagi populasi masyarakat. Dapat dibayangkan bila tidak terdapat suatu lembaga khusus yang menangani atau paling tidak mengorganisir masalah kesehatan ini.

Namun jika kita kembali melihat ke belakang, sejak berdirinya tahun 1948, masalah-masalah kesehatan dunia ternyata tidaklah mulus adanya. Sungguh terasa ironis, ketika hari kesehatan internasional ternyata masih banyak orang-orang kelaparan hingga meninggal; masih banyak penyakit tidak dapat teratasi, dan masih kental jargon “orang miskin tidak boleh sakit”.

Apa yang terjadi? Analisis saya, karena pada masa ini, kita sebagai muslim sedang berada pada titik terendah. Kita berada pada masa dimana adidaya dan kekuasaan berada pada kaum yang lebih mementingkan materi dibandingkan hidup manusia sendiri. Masalah kesehatanpun tidak lain bertujuan asalkan kekuatan dan pembangunan ekonomi lancar, dan kondisi sosial mereka stabil. Sehingga kesehatan masyarakat bukanlah dianggap sebagai suatu masalah tersendiri tetapi merupakan salah satu aspek yang berkaitan dengan tujuan berkembangnya kepentingan ekonomi dan sosial.
The UN has recognized that adequate health and control of disease are essential to economic and social development.” 1
Maka wajarlah, bila lembaga bentukan UN- United Nation (PBB) ini tidak mampu menangani masalah-masalah kesehatan yang ada-melainkan sebagai formalitas belaka. Tidak jarang jika ada kepentingan ekonomi yang dianggap lebih besar disana- masalah kesehatan akan “menyesuaikan”.
(tiba-tiba ada mbak2 yang menyahut: sok bgt sih kamu, gimana kalau mereka benar-benar sungguh2, punya cita-cita tinggi mau menyehatkan seluruh manusia??)

Wah, mbak… jawaban saya kalau begitu: Dijamin, walaupun ada orang yang benar-benar; bersungguh-sungguuuuh mau menyehatkan masyarakat dengan lembaga internasional itu, tidak akan tercapai tujuannya untuk menjamin kesehatan masyarakat secara efektif dan merata, selama sistem yang dipakai dan dijalankan adalah kapitalisme: keuntungan yang sebesar-besarnya dengan usaha sekecil-kecilnya.
Saya ambil contoh yang paling mahsyur deh… AIDS, sampai sekarang belum bisa diatasi. Teman-teman yang di Kedokteran atau Biologi mungkin lebih tahu, berbeda dengan bakteri, virus berukuran sangaaat kecil. Begitu kecilnya, satuan yang digunakan adalah milimikron. Karena begitu kecilnya, virus tidak bisa ‘disaring’ sebagaimana bakteri dapat disaring dengan penyaring khusus. (Ingat, bakteri tidak dapat dilihat dengan mata telanjang karena begitu kecilnya, dan virus lebih kecil lagi dari itu).
AIDS disebabkan oleh virus. Namun demikian kita tahu, solusi yang ditawarkan adalah melakukan hubungan dengan aman, alias menggunakan kondom. Adalah sebuah lelucon. Dengan penyaring bakteri saja virus dapat lolos dengan mudah. Bagaimana bisa kondom mengatasi dan mencegah penyakit ini?
Disini kita lihat ada unsur kepentingan bahkan melakukan pembodohan publik. Kesehatan bukanlah apa-apa dibanding motif ekonomi, ataupun kepentingan sosial tertentu.

Lalu apa langkah kita? Menurut saya adalah langkah yang tepat bila kita melihat kepada solusi yang ditawarkan Islam. Dalam contoh diatas saja, sudah jelas bahwa penyakit ini muncul karena tidak ditaatinya syariat islam; karena syariat islam tidak diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Berzina bahkan dilegalkan oleh pemerintah. Saya tidak bohong. Di Surabaya, terdapat “kawasan khusus” bernama Doly- untuk melakukan kegiatan prostitusi yang bahkan terbesar se-Asia tenggara. Dan itu dilegalkan pemerintah dengan alasan menambah dana anggaran pemerintah. Beginilah ketika aturan Allah tidak dijalankan dalam kehidupan. Kesehatan masyarakat adalah salah satu masalah dari sekian banyak masalah akibat tidak diterapkannya islam dalam kehidupan. Semoga hari kesehatan internasional ini dapat menjadi momentum dan renungan bagi kita, bahwa kita harus kembali ke Islam. Terapkan Islam dalam kehidupan.
Wallahua’lam.
1)     
1) Howard, Peter. "United Nations." Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008. 


oleh: Rizka Kurnia Utami
Koor. Departemen Opini & Syiar Angkatan Muda Al-Baythar UNLAM
Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat, Program studi Arsitektur

(Tulisan ini dibuat untuk opini Majalah dinding AMAL, April 2011)

Senin, 21 Maret 2011

Sebuah Catatan tentang Ide

Satuan terkecil dalam setiap tubuh mahluk hidup bukanlah sel.

Begitulah kata pemateri dalam training motivasi keislaman yang saya ikuti (tepatnya ikut bantu-bantu jadi panitia, hehe).

Loh?

Iya. Sel bukan bagian terkecil. Sel mempunyai inti. Namun inti sel juga bukanlah yang terkecil. Di dalam setiap inti terdapat, kromosom. Di dalam kromosom terdapat DNA. Lalu apakah DNA merupakan satuan terkecil?



satuan terkecil mahluk hidup (Encarta Encyclopedia)

Bukan DNA jawabannya. DNA (Deoxyribonucleic Acid) terdiri dari 'kode-kode' kimia tertentu yang dalam bahasa biologi dan kedokteran disebut sebagai nukleotida. Gabungan kode-kode inilah yang membentuk dan membawa informasi tertentu dalam tubuh kita. Gabungan kode-kode tertentu (gen) yang ada pada diri saya, membentuk warna mata saya menjadi hitam. Gabungan kode-kode tertentu pada kucing menjadikan warna bulunya hitam, putih, atau belang-belang. Gabungan kode-kode tertentu pada pohon palem menjadikan pohon palem memiliki bentuk palem, dan bukan berbentuk pohon mangga! Jadi apa satuan terkecil dalam mahluk hidup? Kode! Kode yang membawa informasi.

Sampai disini saya jadi teringat akan kata-kata dalam film Inception:


An idea is more than a thought. It’s a virus, a cancer of sorts, that can spread until it completely takes over a person, until it defines the person. A single idea from the human mind can build cities. An idea can transform the world and rewrite all the rules.

Dalam arsitektur, gagasan-gagasan mengenai bagaimana kota seharusnya dan bagaimana masyarakat hidup dalam lingkungannya, telah banyak 'diwujudkan' dan dicoba. Tidak sedikit pula yang dianggap gagal. Kota modern Le Corbusier, Chandigarh, contohnya. Atau Bangunan Pruitt Igoe, yang penghancurannya disebut-sebut sebagai simbol runtuhnya modernisme?

Tidak salah lagi ….A single idea from the human mind can build cities… Walupun tidak berarti ide tersebut benar atau salah, layak atau tidak, untuk diterapkan.

Dalam sejarah, sudah terbuktikan bahwa sebuah ide dapat mengubah kondisi dunia secara drastis. Jerman dengan Nazinya, berhasil meyakinkan rakyatnya bahwa mereka dapat menguasai dunia dan memenangkan peperangan karena ide dari seorang Hitler. Saat ini, Amerika bersikap sebagai polisi dunia, karena memiliki ide bahwa demokrasi yang mereka anut dengan kapitalismenya merupakan jalan dan pilihan terbaik yang ada. Silahkan pikirkan sendiri, terbaik bagi mereka atau terbaik bagi semua.

Saya ini ngomong apa sih, ya? Tidak terkonsep ya?

Yang ingin saya sampaikan, tidak selamanya ide-ide yang ada dan diakui banyak orang itu layak kita gunakan. Terkadang memang kita bisa terikut arus. Dan secara tidak sadar mengikuti ide dan pikiran orang banyak yang belum tentu benar.

Arsitektur pun bisa terikut kapitalisme. Lalu arsitektur hanya menjadi konsumsi orang-orang tertentu, dimana seharusnya kelayakan hidup dalam lingkungan yang terbina secara baik dimiliki oleh setiap orang. Saya dapat menjadi agen kapitalis secara tidak sadar!

Dalam kehidupan, contoh yang update dan sedang ramai saat ini, 'bom buku'. Pemberitaan media menyebutkan bahwa ini adalah ulah orang-orang yang ingin menegakan khilafah (vivanews.com). Sungguh, informasi sangat mudah memunculkan ide jamak di kepala orang-orang banyak. Lalu kemudian, orang-orang yang berkerudung dan berbaju panjang dibanding orang kebanyakan disebut-sebut sebagai teroris. Lalu perempuan-perempuan tidak mau lagi menutup auratnya secara sempurna karena takut dianggap 'radikal'.

Radikal. Terdengar ngeri ya? Ditambah seminar yang baru-baru ini diadakan di Jakarta dengan isi 'bahwa kita harus hati-hati terhadap radikalisme islam'. Selanjutnya apa yang terjadi? Apakah orang yang sholat yang kemudian disebut sebagai teroris, ketika orang-orang lain mulai meninggalkannya? Disini terlihat, radikal atau tidak itu sangat relatif dan tergantung pada pembanding.

Oh iya saya mau meng-clear-kan kata 'radikal'. Radikal berasal dari kata radix yang berarti akar. Sehingga kata radikal mengacu pada makna perubahan sesuatu yang mendasar/mengakar. Dengan demikian kata radikal sendiri belum tentu bermakna negatif. Negatif atau tidaknya sesuatu yang radikal adalah pada ISI atau substansi dari perubahannya. Kita permudah dengan analogi. Ketika kita naik kapal, kemudian kapal kita bocor dan dalam waktu 5 menit harus keluar atau tenggelam. Apakah kita lebih baik kita memperbaiki kapal, yang memang sudah rongsok luar biasa, ditengah laut, ataukah melakukan hal 'radikal' dengan keluar "loncat" menyelamatkan diri dari kapal tersebut ke kapal penyelamatan?

Makin ga nyambung ya, tulisan saya? Biarlah tulisan ini kesana-kemari. Sadar atau tidak, setuju atau tidak setuju, tulisan ini pasti (bila bukan pasti, mungkin) memunculkan atau mempengaruhi ide di kepala anda. Periksa pikiran kita, hati-hati dengan apa yang ada di pikiran kita...
An idea is more than a thought. It’s a virus, a cancer of sorts, that can spread until it completely takes over a person, until it defines the person.– Inception

Minggu, 20 Februari 2011

The American Book of the DeadThe American Book of the Dead by Henry Baum

My rating: 3 of 5 stars


Hufh...Akhirnya... selesai juga baca buku ini. Rasanya alurnya kok lambat bener ya. Trus penggambaran penulis tentang apocalypse-nya juga ga menggigit. Apa karena baca versi inggrisnya ya, sedang bahasa inggris q dibawah rata-rata? Haha.. Kemaren maksudnya sih biar sekalian belajar bahasa inggris :p
Kalau biasanya membaca novel selesai dalam beberapa jam, saya perlu berhari-hari untuk menyelesaikan buku ini. Tapi wajar saja, soalnya novel yang dibaca kan juga bahasa indonesia, he.

Saat membaca bagian depan buku saya pikir buku ini sepertinya akan cukup menarik. Saat itu saya baru saja menonton beberapa film yang vulgar menampilkan darah dan kekerasan saat saya membaca buku ini. Haduh,adegan darah bermuncratan dan bagian-bagian tubuh berlepasan dalam Ninja Assasin masih saya ingat.hiii.

Pada intruduction, dengan menggunakan sudut pandang pertama, diceritakanlah seseorang yang bernama Eugene Myers. Saya mengira introduction ini merupakan semacam kata pengantar atau pendahuluan dari Henry Baum, si pengarang buku. Sebab 'aku' pada bagian introduction ini menceritakan gambaran tentang isi buku. Bahwa pembaca akan memaafkannya untuk ending yang buruk pada buku ini. Dimana Ia mengatakan "I live in a time when violence is a religion, God is dead, and humor is something grandfathers used before the war." Wah ternyata ada juga ya orang barat yang merasakan demikian. Sadar bahwa kekerasan sudah dianggap normal dan dinormal-normalkan sebagaimana film-film yang baru saya tonton.

Melihat pengarangnya yang bagi saya sepertinya berbeda dengan orang kebanyakan, maka saya mengambil kesimpulan, buku ini sepertinya akan menarik. Tapi tiba-tiba saja cerita menjadi terasa mengalir. cerita ternyata telah dimulai dari tadi.

Maka kisah hidup Eugene Myers dan orang-orang terkaitpun pun diceritakan--petualangannya serta mimpi-mimpi anehnya tentang orang-orang yang tak dikenalnya dari berbagai tempat, yang ternyata memang ada. Kemudian ia yang mendapati apa yang ia bayangkan dan ia tulis ternyata dapat menjadi kenyataan. Singkat cerita, Ia mengalami keanehan-keanehan (begitu pula dengan orang-orang yang Ia mimpikan). Namun Ia tidak mengerti makna dari kesemua hal tersebut. Hingga mendekati akhir kisah, kesemuanya ternyata 'menuntunnya' menjadi orang yang memegang peranan penting.

Setelah berhari-hari membaca--ga tau juga kenapa kok pengen cepat diselesaikan padahal seringnya kalau baca ini sampai ngantuk--akhirnya ada juga bagian yang disuka. Di paragraf kedua bagian epilog :D

"Were these real beings or a projection of our imaginations? The difference no longer mattered, but the answer was: both. All of us were the product of self-perception and the perception of others--watched and read by beings of our own invention, some of the stories tragic, some uplifting. We were the universe's entertainment"

Mungkin disamping menunjukan kepada para pembaca betapa bobrok dan gilanya dunia saat ini, salah satu yang ingin disampaikan penulisnya tampaknya adalah All of us were the product of self-perception and the perception of others. Saya membaca buku ini dengan presepsi, menulis review ini dengan presepsi. Yah, saya tidak mau menulis akhir kisah bukunya. Karena mungkin anda sudah punya presepsi sendiri



View all my reviews on goodreads

Minggu, 13 Februari 2011

Peradaban Islam di Andalusia


Khazanah dunia islam begitu banyak tersebar di dunia. Termasuk di belahan barat sana. Sebut saja Cordoba, Granada, dan Sevilla yang menjadi pusat peradaban di Spanyol atau Andalusia pada masa lampau. Adalah Thariq bin Ziyad, panglima perang Islam bersama 7000 pasukannya yang menaklukan kota-kota di Spanyol, dan menjadi awal tersebarnya Islam di Eropa.
Dikatakan sebelumnya Andalusia saat di bawah kerajaan Visigoth termasuk rendah tingkat kebudayaannya. Namun ketika Islam datang, Andalusia berubah menjadi pusat peradaban. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu pesat, bangunan dengan arsitekturnya yang indah dengan desain luar biasa bertebaran, bahkan masih ada yang tersisa hingga saat ini. Sebuah peradaban yang begitu maju untuk jamannya.
Perlu diperhatikan, ketika Andalusia dengan kota-kotanya telah begitu maju dengan pesatnya, Barat pada saat yang sama begitu terpuruk, bahkan masih terus berlanjut selama beberapa kurun waktu. Hal ini digambarkan oleh Wiliam Drapper dengan begitu jelasnya:
“Pada zaman itu Ibu Kota pemerintahan Islam di Cordova merupakan kota paling beradab di Eropa, 113.000 buah rumah, 21 kota satelit, 70 perpustakaan dan toko-toko buku, masjid-masjid dan istana yang banyak. Cordova menjadi mashur di seluruh dunia, dimana jalan yang panjangnya bermil-mil dan telah dikeraskan diterangi dengan lampu-lampu dari rumah-rumah di tepinya. Sementara kondisi di London 7 abad sesudah itu (yakni abad 15 M), satu lampu umumpun tidak ada. Di Paris berabad-abad sesudah zaman Cordova, orang yang melangkahi ambang pintunya pada saat hujan, melangkah sampai mata kakinya ke dalam lumpur”.

Hal ini juga dinyatakan Gustav le Bon. Sebelum Islam datang, di Barat tidak ada satupun Ilmu pengetahuan yang berkembang, melainkan tahayul:

"Sebuah kisah menarik terjadi pada zaman Daulat Abbasiah saat kepemimpinan Harun Al-Rasyid, tatkala beliau mengirimkan jam sebagai hadiah pada Charlemagne seorang penguasa di Eropa. Penunjuk waktu yang setiap jamnya berbunyi itu oleh pihak Uskup dan para Rahib disangka bahwa di dalam jam itu ada jinnya sehingga mereka merasa ketakutan, karena dianggap sebagai benda sihir. Pada masa itu dan masa-masa berikutnya, baik di belahan Timur Kristen maupun di belahan Barat Kristen masih mempergunakan jam pasir sebagai penentuan waktu".

Bangkitnya peradaban Eropa bermula dari Andalusia. Dengan Andalusia sebagai pusat ilmu pengetahuan, pemuda-pemuda dari berbagai daratan Eropa seperti Prancis, Inggris, Jerman dan Itali, dikirim ke sejumlah perguruan tinggi Andalusia untuk menuntut lmu pengetahuan dan teknologi pada Ilmuwan-ilmuwan muslim. Mereka inilah yang kemudian menggunakannya untuk pengembangan bangsanya. Pada masanya kemudian, bangsa Barat akhirnya mengalami lompatan besar pemikiran dan budaya. Dapat kita lihat kontribusi besar Islam terhadap bangkitnya peradaban Barat dan datangnya masa renaissance di Eropa.
Sangat disayangkan, kebangkitan Barat yang bermula dari Islam ini sering ditutup-tutupi Barat hingga akhirnya terabaikan. Saat ini kita yang umat Islam pun akhirnya lupa bahkan tidak tahu bahwa kemajuan Barat sejatinya tidak dengan sendirinya, melainkan ada peran Islam dan peradabannya di sana.



Rizka Kurnia Utami*
Anggota Angkatan Muda Al Baythar Banjarbaru
 dan mahasiswi Program Studi Arsitektur Unlam Banjarbaru

Tulisan ini dibuat untuk buletin AMAL, edisi Maret 2011
tulisan berbeda dengan yang terdapat di buletin
karena mengalami pengeditan

Rabu, 02 Februari 2011

Membuka Kembali Catatan

Arsitek itu justru intuitif- walaupun ia merencanakan sesuatu secara sistematis
Ucapan salah satu dosen saya, 2009

(Tidak peduli apakah aku seorang divergen yang intuitif dan abstrak atau seorang konvergen yang sistematis, setiap orang pasti bisa melatih kedua sistem berpikir ini, dan aku pasti bisa belajar untuk fokus).