Sabtu, 09 Mei 2015

Jakarta


Penumpang Kereta Api Listrik (KRL) Jakarta bersiap turun di salah satu stasiun transit. Gerbong lengang karena bukan jam berangkat/pulang kerja (Jumat, pukul 10.20). Foto diambil setelah melewati pusat-pusat keramaian Jakarta. Ini sudah di wilayah Jakarta Utara.

Saya suka Jakarta.... Dari kejauhan.

Maksud saya, saya suka hanya jika berkunjung sesekali. Alasannya sederhana, acara-acara besar workshop, pameran/expo, konferensi, atau bahkan masyiroh/aksi gabungan, seringkali diadakan di Jakarta. Contoh, untuk Rapat dan Pawai Akbar* nanti, untuk yang wilayah jabodetabek, acaranya diadakan di Jakarta.

Atau seperti kemarin, saya berkesempatan ikut expo dan workshop The Big 5, expo konstruksi terbesar dari 5 negara, di Jakarta International Expo (JIE). Katanya sih JIE tempat biasa Jakarta Fair diadakan. 'Katanya', sebab saya belum pernah juga datang ke Jakarta Fair.

Saya ingat perkataan dosen saya dulu waktu kuliah, kurang lebih kata beliau begini,
"Kota yang baik adalah kota yang memampukan nenek-nenek tua sekalipun bisa jalan-jalan keliling kota sendirian, naik angkutan umum dengan aman dan nyaman"

Minggu, 11 Mei 2014

Kei Minohara, Sou Fujimoto & Adi Purnomo (Atap Jakarta)



Ini adalah tiket acara yang saya janjikan dari lama ceritanya. Dari tanggal acara 15 Maret, baru sekarang bisa menulis untuk blog karena laptop saya rusak (alasan :P). Sempat diperbaiki kemudian rusak lagi, sampai ternyata sudah lewat 2 bulan! Baiklah karena sekarang sudah bisa, mudah-mudahan saya masih bisa menceritakan ini dengan baik, dari catatan yang ada.

Seminar simposium ini diadakan di Grand Indonesia, Jakarta. Awalnya saya tidak tahu seminar yang bagaimana yang akan dihadiri ini. Hanya diberitahu kalau semua sangat disarankan ikut acara dengan pengecualian untuk saya. Bu Mita bilang 'Harus', karena kemarin Saya dapat tugas mempelajari project untuk kompetisi. Selain karena bos menjadi salah satu pembicara, alasan semua diajak ikut seminar yaitu karena pembicara lain adalah Kei Minohara, dan Sou Fujimoto. Kebetulan keduanya asal Jepang, tapi sudah melanglang buana ke mana-mana. Kei Minohara adalah urban planner yang dikenal dan sangat dihormati di Jepang. Sou Fujimoto adalah arsitek muda yang karyanya sudah tersebar dibeberapa negara, Beberapa desainnya fenomenal dan terkenal. Ia adalah murid dari Toyo Ito, dan menurut Pa Mamo ini berpengaruh dan dapat terlihat pada desain Fujimoto. Menurut beliau pula, arsitek ini cepat sekali berkembangnya dan solusi desainnya cerdas. Beliau terlihat antusias menjadi pembicara bersama Sou Fujimoto, bahkan beliau bilang sebenarnya nervous karena sama-sama harus jadi pembicara :D. Intinya Ini acara sangat direkomendasikan karena bisa belajar dari arsitek lain, seperti Sou Fujimoto, yang kapan lagi bisa ke Indonesia.

Jadi apa yang saya dapat setelah mengikuti seminar ini?

Jumat, 21 Februari 2014

Tujuan

Bayangkan settingnya: Lesehan di teras belakang, dikelilingi hijau tanaman pagar dan beberapa pohon kecil. Background suara deras sungai yang terkadang saya masih susah membedakannya dengan suara hujan. Kicau burung yang bermacam-macam, karena memang tetangga sebelah studio punya aviary (kandang burung besar : ). Oh iya, serta nyamuk yang kadang tidak terasa, tahu-tahu sudah menggigit. 

Sederhana. Di sinilah tempat makan siang kantor yang terkadang sambil diselingi diskusi. Soal arsitektur, masalah lingkungan, seperti banjir, kebijakan pemerintah, peristiwa terkini, problematika masyarakat (kalau istilah hizb: problematika umat), adalah topik yang seringnya dibicarakan. Karena praktisi yang bergelut langsung serta pengalaman hidup yang banyak, terkait hal-hal tersebut  beliau-beliau tahu cerita dan fakta yang mungkin umum jarang mengetahuinya. Contohnya misalnya begini, kalau orang umum sekarang tahu bahwa pemerintahan sekarang bobrok, maka beliau-beliau tahu detil kebobrokannya, orangnya, dan apa yang orang tersebut lakukan. 

Kamis, 20 Februari 2014

everyday architecture

Terpikir mengganti nama blog jadi everyday architecture. Walau panjang entah kenapa suka. Bahkan sudah muncul gambaran logo atau head webnya. Saya berencana akan lebih sering menulis dan mencicil tulisan untuk bikin buku (aamiin). Dengan nama everyday architecture, bukan berarti setiap hari saya bakal update blog. Hanya ingin membagi pandangan keseharian dalam arsitektur. Selama di lingkungan baru dan kerja di mahati dan mamostudio, nampaknya banyak kelebatan-kelebatan pemikiran bermunculan. Sangat sayang jika tidak di bagi. Apalagi saat pemikiran-pemikiran itu lewat, seringnya saya senyum-senyum sendiri, tuh bahaya kan. Nanti orang lain bakal ke ge-er an lagi, dikirain senyumin orang di seberang. Bukan lucu atau apa tapi seringkali saya baru sadar hal-hal disekitar, yang terkadang sederhana. 

Minggu, 16 Februari 2014

Arsitek dan Persoalan Perumahan

Berapa harga rumah dengan luas 36 meter persegi (Tipe 36) saat ini? 
Di Tangerang, rumah tipe 36 yang disediakan pengembang besar terkemuka saat ini memiliki harga pasaran 100000000 – 110000000 rupiah. Bingung ngitung jumlah nolnya kan? Saya juga. Harganya sekarang Rp 100jutaan . Sedang tipe 38 didaerah Cibubur dengan induk pengembang yang sama, harganya 242,4 juta. Itu jika tunai, jika kredit KPR (bunga/Riba) maka harganya menjadi 260jutaan.
 

Itu artinya rata-rata harga rumah di Tangerang adalah Rp 2.7juta-3juta setiap 1m persegi lantai bangunan (tanpa memperhatikan luas tanah), sedang di Cibubur harganya Rp 6.3 juta per meter persegi. Harga disetiap dapat berbeda, karena harga juga dipengaruhi salah satunya lokasi, dimana setiap lokasi memiliki perbedaan perkembangan pertumbuhan ekonomi yang berbeda pula. Contoh di Pekanbaru, rumah tipe 96 luas tanah 105m2 memiliki harga jual tunai 1,05 milyar. Yang artinya harga jual rumah di Pekanbaru tiap 1 meter persegi lantai adalah Rp 10,9 juta. Walaupun daya beli rata-rata masyarakat Pekanbaru tinggi (pendapatan perkapita penduduk Provinsi Riau ada pada urutan ketiga tertinggi se-Indonesia [1]), Saya tidak tahu ini dalam batas kewajaran atau tidak.

Minggu, 15 Desember 2013

Tentang Portofolio dan Rusaknya Hardisk

Tiada rotan akarpun jadi. Saat data file digital sudah menghilang karena rusaknya hardisk, file-file manual akhirnya jadi penolong. Tidak menyangka tugas-tugas studio individu yang dulu diminta dosen-dosen kami agar dipresentasikan (dan dikumpul) secara manual/gambar tangan ternyata sangat terpakai dan bermanfaat.

Dalam studio perancangan kebanyakan mahasiswa memang mengerjakan dasarnya (denah, tampak, potongan) secara digital dengan bantuan CAD atau yang lain. Baru kemudian di jiplak ulang dan difinishing secara manual dengan gambar tangan. Adapula yang mengerjakan denah, kemudian langsung mengerjakan 3D. Lalu diproyeksikan untuk mendapatkan gambar tampak dan lain-lain, terakhir baru dijiplak, dikerjakan secara manual. Saya sendiri biasanya juga mengerjakan denah potongan di CAD. Baru lebih detailnya manual. Perspektifnya (3D) biasanya sih manual, kecuali perlu studi khusus tentang bentuk, atau kalau bentuknya susah, baru dikerjain digital he :P.


Tapi kalau dilihat dan diingat-ingat, ternyata ada juga saya mengerjakan full manual. Kalau tugas kecil Studio Perancangan Arsitektur  (SPA) 1 sih memang manual karena masih belum bisa pakai CAD. Rasanya saya baru mulai bisa CAD itu saat tugas besar SPA1. Tapi SPA 4 itu, entah kenapa dulu semuanya full manual. Kalau Tugas Akhir (TA) beda lagi, karena laptop rusak, akhirnya hanya denah dan siteplan yang digital. Tampak dan potongan, juga 3D dikerjakan manual. Konsekuensinya maket mesti dikerjakan sendiri. Beruntung ada balabantuan; Nia yang super cepat (kalau ngomong aja sering diprotes kecepatan sama yang lain, he.), plus ka Neny dan Airin. Btw lama-lama ngelantur juga nih tulisan.

Sebenarnya cuma mau share, ini portofolio hasil mengumpulkan, memilih, men-scan, mengedit, kertas-kertas hasil studio arsitektur individu saya. Beberapa file digital yang masih tersisa, dikumpulkan dari blog, facebook atau data yang memang selamat dari rusaknya hardisk. Kenapa hanya portofolio individu, karena tugas studio yang dikerjakan secara tim juga ga ada lagi filenya sama saya.

Portofolio rizka_fullscreen view

link di blog ini (embed), ini yang viewnya kecil, saya belum bisa ngaturnya supaya viewnya lebih besar

Senin, 03 Juni 2013

Maket Tugas Akhir

Dalam  arsitektur, maket (model/ miniatur bangunan) adalah salah satu alat bantu dalam presentasi, atau bahkan alat bantu dalam mendesain.

Nah bagi mahasiswa tugas akhirpun demikian. Saat tugas akhir (TA) kemarin, Saya sangat terbantu oleh adanya kawan-kawan sekontrakan: Airin, Nia dan Ka Neny. Saat sidang TA maket sudah harus jadi untuk membantu dalam presentasi untuk mengkomunikasikan desain. Saya berjanji kepada salah satu dari mereka yaitu ka Neny, untuk upload foto maketnya. Mungkin bagi kawan-kawan di arsitektur sudah biasa dengan maket. Sedangkan bagi beliau yang jurusan MIPA, maket bukan suatu hal yang biasa sehingga ketika sudah jadi, beliau takjub (yah dilebaykan dikit ga papa lah... :p ) dengan hasil jadi maket. Nah kepada mereka bertiga, saya ucapkan banyak-banyak terimakasih karena telah membantu.
Ini foto hasil maketnya :D
Maket Pusat Sains Islam di Martapura

Foto detail maket beserta penjelasan desain